Kemarin pagi istriku laporan, "Tadi pulang sekolah si kakak nangis," Lho kenapa ? apa di isengin teman-temanya? tanyaku. " Awalnya memang aku pikir seperti itu , jawab istriku, tetapi ternyata si kakak nangis karena terima hasil test matematikanya hanya dapat nilai 73 dari nilai 100 yang seharusnya.
Malamnya saat pulang kerja, langsung aku telpon si kakak, aku tanya kenapa kok tadi pulang sekolah nangis? " Iya yah, tadi kakak test matematikanya hanya dapat nilai 73" dan ini berarti harus remidi karena memang standar nilai di sekolah anak-anakku nilai dibawah 75 harus remidi dan ikut test ulang. Terus aku tanya lagi,: terus kenapa kakak nangis? " Takut sama bunda dan ayah , karena harus ikut test ulang lagi", jawab si kakak.
Ucapan itu, langsung membuatku terdiam, dan tanpa sadar ada rasa sedih, apakah anak-anakku merasa terbebani selama ini? ataukah memang tanpa kami sadari masih suka menitipkan ego kami kepada anak-anakku atas nama biar jadi anak-anak yang pintar dan mendapatkan pendidikan yang baik, dan nanti besarnya bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak.
"Yah, kok telpon cuma diam saja?" terdengar suara si kakak diseberang sana. Eh...iya kak, jawabku....
Kak, kalau kakak dapat nilai jelek dan harus remidi, tidak usah sedih dan nangis, tidak perlu takut sama bunda dan ayah, karena kami tidak akan marah. Kak, kalau kakak dapat nilai jelek, itu berarti kakak harus lebih giat belajar lagi, lebih teliti lagi, dan nanti pasti kakak akan bisa kok dapat nilai bagus lagi.
Kak, ayah-bunda, tidak bermaksud untuk membuat kakak harus dapat nilai 100 terus disetiap ulangan. Ayah-bunda menyekolahkan kakak dan adik itu, agar kakak dan adik belajar menyerap ilmu kehidupan ini. Dengan kakak dan adik dapat bermain bersama-sama teman-teman yang lain, dapat petuah dari yanda dan bunda di sekolah, mengenai ilmu agama, ilmu pengetahuan, etika dan akhlak yang kami tidak bisa ajarkan ke kakak dan adik dirumah. Itu sebenarnya tujuan kakak dan adik sekolah, bukan harus dapat nilai 100 disetiap test tetapi cukuplah kakak dan adik memahami dan mengerti bahwa kita tidak harus selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, terkadang kita memang harus merasakan kegagalan, merasakan kesudahan, tetapi proses-proses seperti itu akan menempa kakak dan adik menghadapi kehidupan ini nantinya.
Kak, terakhir kali ayah dan bunda pesan, ujian utama itu adalah nanti disaat kakak dan adik sudah dewasa, dan sudah membangun kehidupan sendiri nantinya. Disaat itulah nanti kakak dan adik akan mengerti.
Kak, jadilah selalu orang yang optimis yang dapat melihat dan menciptakan cahaya, walaupun dalam kegelapan, dan janganlah menjadi orang yang pesimis yang malah berusaha mematikan kerlipnya cahaya. Tetapi jadilah cahaya yang menerangi kelam hati ini.
Disaat nanti tiba, ayah dan bunda sudah tiada, jadilah sebagai sumber amalan-amalan buat kami disana nanti.
Karawang, 07 Okt 2016













